Kamis, 24 Februari 2011

Raudhah

Selasa, 30 Juni 2009
Ba'da Isya
Masjid Nabawi

Butuh perjuangan besar untuk menuju tempat yang didalamnya terdapat makam Rasulullah bersama dua sahabatnya. Disikut, digencet, atau dihimpit dengan jamaah lain merupakan risiko yanh sudah harus ditanggung untuk dapat melakukan shalat dan berdoa di Raudhah yang batasan wilayahnya dipisahkan oleh karpet berwarna hijau. Meski telah menjejakkan kaki di atas karpet hijau, tidak lantas serta merta kita langsung dapat melenggang untuk shalat dan berdoa begitu saja. Kita harus pandai-pandai mencari cara dan tempat yang strategis untuk dapat melakukan hal tersebut.

Awalnya kami beriringan sebanyak delapan orang, tetapi begitu masuk ke wilayah Raudhah hanya tersisa saya, Kiky, dan Diva -anak kecil pemilik konsorsium haji dan umrah, baru berumur 6 tahun- yang tentunya butuh perhatian ekstra supaya dia tidak terlepas dari tanganku yang kudekap erat dari belakang.

Beruntung saya menemukan tempat kosong yang posisinya pas sudut. Akhirnya kami bertiga bergegas menuju ke sudut itu dan membiarkan Diva segera duduk.

"Kakak shalat sunat saja duluan. Kita gantian, nanti saya yang jaga di belakang," kata Kiky, mahasiswa semester 3 Teknik Sipil, yang mulai akrab denganku sewaktu kami transit di Changi Airport guna melanjutkan perjalanan menuju Jeddah.

Posisi di sudut dan telah dijaga oleh Kiky dari belakang ternyata bukan jaminan saya dapat melaksanakan shalat dengan khusyuk karena saya masih harus terganggu dengan berbagai dorongan dari belakang dan samping kananku yang membuat tempatku bersujud di rakat pertama berbeda dengan rakaat kedua.

Usai menuntaskan shalat sunatku yang hanya bisa kukerjakan empat rakaat serta serangkaian doa dan shalawat untuk Rasulullah segera saya bergantian dengan Kiky untuk menjaganya dari belakang. Sepintas saya melihat Diva yang sepertinya sudah mulai merasa tidak nyaman.
Kuraih tangannya untuk bangkit berdiri dari duduknya dan kudekap lagi dari belakang agar ia tidak terjatuh.

"Kak...masih lama yah di sini ?" tanyanya setengah meringis
"Sebentar lagi Diva, nunggu K' Kiky selesai."
Tak berapa lama kemudian, Kiky sudah berdiri pas di hadapanku.
"Selesai Kak, ayo kita keluar,"katanya seraya menggamit lenganku dan kami bertiga berjalan keluar menuju pintu nomor 25 di mana Hotel Dallah Taibah tempat kami menginap di Madinah sudah nampak di depan mata dengan kerlap-kerlip lampunya yang ramai.

Pengalaman pertamaku ke Raudhah yang tidak mungkin terlupakan seumur hidup...dapat melakukan shalat dan berdoa di depan makam rasulullah meski tidak dapat langsung melihatnya karena dibatasi oleh hijab putih, beda dengan jamaah laki-laki yang bisa sampai ke mimbar beliau...dapat merasakan wangi tersendiri yang berbeda begitu berada di Raudhah...dapat menikmati suasana tersendiri yang tidak pernah kurasakan sebelumnya serasa di taman surgawi dunia...dan tentunya bersama seorang anak kecil yang juga baru pertama kali menjejakkan kakinya ke Raudhah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar